blog-indonesia.com

klantink cuma bisa nulis cakar ayam

Senin, 25 Oktober 2010

Sikap rendah hati dan pantang putus asa rupanya jadi kunci utama dan keberhasilan Klantink menarik perhatian masyarakat Indonesia di ajang penggalian bakat Indonesia Mencari Bakat (IMB) yang tayang di layar TransTV. Kerasnya kehidupan sebagai pengamen jalanan membuat kelima anak muda ini matang dan tahu bagaimana bisa menempatkan diri di tengah persaingan ketat merebut rezeki di jalanan.

Kerasnya hidup di bawah terik mentari dan guyuran hujan sudah mereka nikmati sejak 20 tahun silam. Tatapan sinis dan cercaan orang pun sudah akrab dengan keseharian pengamen yang rata-rata berusia 20-30 tahun ini. Mereka juga akrab dengan kejaran petugas Satpol PP dan polisi yang sering merazia di perempatan jalan, tempat mereka nongkrong mencari rezeki.

“Kami juga pernah diusir ketika akan mengisi sebuah hajatan manten oleh MC di acara tersebut. Padahal, kami jelas-jelas diundang oleh yang punya gawe. Tapi, sebelum pintu masuk sudah disuruh pergi,” tutur Imam.

Ketika ditanya target Klantink di pentas IMB pun, Wawan, Imam, Mat, Lukin, dan Budi kompak menjawab, ”Niat kami bukan jadi terkenal. Tekad kami sederhana saja: ingin mengubah nasib, sehingga kami tidak lagi ngamen di jalanan dan cari duit lebih gampang!”

Berkat kerja keras dan tak putus berdoa pula, personel Klantink bisa bertahan dari babak ke babak IMB yang tayang tiap hari Sabtu dan Minggu. Dan tak dipungkiri, niat awal pengamen ini pun telah tercapai. Setiap minggu mereka bisa menambah tebal pundi-pundi uang dari hasil pentas di TransTV.

“Nasib kami memang sudah berubah. Selain belajar lebih disiplin sebagai pelajaran pertama untuk eksis di dunia hiburan, kami juga sekarang lebih pinter. Maklum, siapa pun orangnya bila bergaul dengan orang pinter pasti ketularan pinter,” ujar Imam.

Sebagai contoh, Imam lalu menyebut, “Kami sekarang mengerti apa itu perform. Kami juga paham lighting (pencahayaan), meski kalau disuruh menulis kata itu masih sering salah,” tutur Mat, personel paling tua di grup Klantink yang mengaku berusia 32 tahun.

“Kami sekarang juga ngerti lo arti briefing. Biasane kan cuma eh rek, ayo kumpul-kumpul. Sekarang lebih elite, briefing!” papar Wawan yang disambut tawa teman-temannya.

Sebagai pengamen jalanan, mereka mengaku tak sempat mengenyam pendidikan formal. Tak heran jika mereka tanpa malu menyebut diri mereka tak bisa menulis. “Kalau membaca masih bisa dikit-dikit, Mas. Tapi, nek dikongkon nulis cakarayam (tulisan yang nyaris tak terbaca, red), iku wis lumayan. Sebagian besar dari kami memang nggak bisa nulis. Bagi kami, meski nggak bisa nulis yang penting selalu berada di jalan yang benar!” tegas Budi.

Meski nasib sudah berubah, pengamen yang juga tergabung di Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) Surabaya ini tak ingin jadi sombong. Mereka justru ingin bisa menarik teman-teman mereka yang masih hidup di jalanan untuk memperoleh nasib yang sama.

“Kami ini malah nggak merasa lo kalau sudah sukses. Kalau pun disebut sebagai orang sukses, kami tak akan lupa dengan teman-teman kami yang masih hidup di jalanan. Kami nggak boleh sombong. Kehidupan di jalanan itu kan keras, dan jika sombong pasti nyawa taruhannya!” cetus Budi.

Di Terminal Joyoboyo Surabaya yang menjadi markas besarnya, Klantink dan teman-temannya menyewa kamar sangat kecil berukuran 2×3 meter di pojok terminal. Harga sewanya Rp 150.000 per bulan.

“Tapi, di tempat inilah sering muncul inspirasi Klantink dan kami teman-temannya,” kata Darsono, teman Klantink, saat ditemui Surya kemarin di Joyoboyo.npra/fai

0 komentar: